Ulumul Syar'i https://e-journal.stishid.ac.id/index.php/uls Jurnal Ulumul Syari Jurnal Ilmu Hukum & Syariah LPPM STIS Hidayatullah Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIS Hidayatullah en-US Ulumul Syar'i 2086-0498 PACARAN MENURUT MUHAMMAD SHODIQ MUSTIKA (Studi Terhadap Catatan di Situs www.pacaranislami.wordpress.com) https://e-journal.stishid.ac.id/index.php/uls/article/view/47 <p>Muhammad Shodiq Mustika melalui blognya www.pacaranislami.wordpress.com, menyatakan bahwa pacaran tidaklah haram. Pacaran termasuk perkara muamalah, sehingga butuh dalil sebagai pengharamannya. Ia membolehkan berduaan (khalwat), melihat dan menyentuh antar lawan jenis yang bukan mahram. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research) yang bersifat kualitatif dan diuraikan secara deskriftif-analitik. Pacaran termasuk perkara muamalah adalah pemahaman yang keliru bila dilihat pada pengertian muamalah itu sendiri. Adapun pendapatnya tentang bolehnya berduaan (khalwat), melihat dan menyentuh lawan jenis yang bukan mahram terkesan memudahkan tanpa meninjau akibat yang akan muncul setelahnya. Meskipun beberapa pendapatnya sejalan dengan syariat, namun pendapat-pendapatnya dalam meng-interpretasikan kaidah dan hadits tersebut cenderung terburu-buru, kurang luas dan mendalam. Pendapatnya juga bertolak belakang dengan konsep maqasidus syari’ah tentang larangan yang bersifat preventif dalam pergaulan antar lawan jenis yang bukan mahram.</p> Ahmad Arfan Copyright (c) 2019 Ulumul Syar'i 2019-07-21 2019-07-21 8 1 1 24 Pendapat Imam Syafiʻ i Tentang Penangguhan Harta Warisan Orang Hilang (Studi Kitab Al-Umm) https://e-journal.stishid.ac.id/index.php/uls/article/view/50 <p>Penelitian ini dilatarbelakangi atas perbedaan pendapat Imam Syāfıʻī dan Imam mazhab lainnya mengenai warisan orang hilang. Para ulama berbeda pendapat sampai kapan penangguhan dilakukan, apakah ditetapkan berdasarkan perkiraan waktu saja atau diserahkan kepada ijtihad hakim. Ada dua pertimbangan hukum dapat digunakan dalam mencari kejelasan status hukum orang yang hilang ini. Inilah yang mendasari peneliti tertarik untuk meneliti pendapat para ulama mengenai warisan orang hilang, dan peneliti menfokuskan pada pendapat Imam Syāfıʻī. Melalui teknik analisis data yang mencakup <em>content analysis </em>(analisis isi), pendapat Imam Syāfıʻī tentang warisan orang hilang yaitu hartanya tidak boleh dibagikan terlebih dahulu sebelum diketahui dengan yakin oleh ijtihad hakim di setiap tempat akan meninggalnya orang hilang tersebut.</p> Faslul Rahman Copyright (c) 2019 Ulumul Syar'i 2019-10-08 2019-10-08 8 1 25 37