https://e-journal.stishid.ac.id/index.php/uls/issue/feed Ulumul Syar'i 2020-06-25T11:20:37+00:00 Herianto lppm.stishid@gmail.com Open Journal Systems Jurnal Ulumul Syari Jurnal Ilmu Hukum & Syariah LPPM STIS Hidayatullah https://e-journal.stishid.ac.id/index.php/uls/article/view/53 Implementasi Pencatatan Perkawinan di Indonesia (Studi atas Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974) 2020-06-10T00:08:05+00:00 Imam Faishol imamfaishol@gmail.com <p><em>Pencatatan perkawinan merupakan persoalan baru dalam hukum keluarga Islam yang belum ada perintah dari Al-Quran maupun hadits yang secara tegas. Namun, persoalan pencatatan perkawinan butuh intervensi negara agar terjaminnya administrasi setiap warga negara. Penulisan artikel ini ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan pencatatan perkawinan dalam Undang-Undang Perkawinan dan bagaimana dampak hukum jika perkawinan tidak dicatatkan</em>.</p> 2020-06-10T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2020 Ulumul Syar'i https://e-journal.stishid.ac.id/index.php/uls/article/view/69 Pemenuhan Nafkah Pakaian Dari Suami Kepada Istri (Studi Kasus Warga RT. 25 Kelurahan Teritip Kecamatan Balikpapan Timur) 2020-06-10T00:13:45+00:00 Paryadi semangatmas@gmail.com Isaliyah Isaliyah44@gmail.com <p>Pemenuhan nafkah pakaian merupakan kewajiban bagi suami, namun tidak semua suami pada warga RT. 25 memberikan nafkah pakaian kepada istrinya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Pemenuhan nafkah pakaian&nbsp; Warga RT. 25 Kelurahan Teritip dapat di bagi menjadi tiga kelompok. Pertama, tiga kasus nafkah pakaian yang terpenuhi. Suami berpenghasilan yang cukup dan suami telah mengetahui kewajibannya. Kedua, empat kasus nafkah pakaian yang kurang terpenuhi karena kelalaian suami serta menganggap pakaian bukan hal utama.&nbsp; Ketiga, tujuh kasus suami tidak memenuhi nafkah pakaian kepada istri. Suami yang tidak memberikan nafkah pakaian kepada istri dengan alasan bahwa nafkah pakaian bukan hal yang penting sehingga mendahulukan kebutuhan yang lain&nbsp; tidak dibenarkan dalam syariat. Adapun suami yang berpenghasilan minim dan suami yang tidak mengetahui bahwa nafkah pakaian merupakan kewajiban bagi suami, maka alasan ini adalah udzur, syariat tidak membebani hamba yang tidak mampu dan tidak mengetahui.</p> 2020-06-10T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2020 Ulumul Syar'i https://e-journal.stishid.ac.id/index.php/uls/article/view/68 Pembagian Waris Masyarakat Suku Toraja (Studi Kasus 3 Keluarga RT. 09 Sepinggan Raya Balikpapan Selatan) 2020-06-15T00:03:52+00:00 Sri Hartati th3sahl@gmail.com Annisa Nurilahi ummulabibah96@gmail.com <p>Penelitian ini berawal dari realita yang terjadi pada 3 keluarga masyarakat suku Toraja RT. 09 Kelurahan Sepinggan Raya Balikpapan Selatan mengenai tata cara pembagian waris dengan melebihkan harta warisan kepada anak sulung. Serta tidak memberikan hak warisan kepada salah satu ahli waris. Penelitian ini akan membahas tentang faktor mengapa anak sulung mendapatkan warisan lebih dari ahli waris lainnya serta mengapa dari salah satu ahli waris tidak mendapatkan warisan. Dalam penelitian ini Peneliti memaparkan pada landasan teori; pengertian waris, dasar hukum waris, syarat dan rukun waris, ahli waris, sebab menerima waris dan penghalang-penghalang menerima waris, <em>ashabah</em>, <em>radd</em> serta waris menurut adat. Penelitian ini adalah penelitian lapangan <em>(field research)</em> dalam praktik pembagian waris, yang diuraikan secara deskriptif tentang pembagian waris oleh 3 keluarga suku Toraja RT. 09 Kelurahan Sepinggan Raya Balikpapan Selatan. Teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara melalui responden 3 keluarga masyarakat suku Toraja RT. 09 Kelurahan Sepinggan Raya Balikpapan Selatan. Kemudian mendokumentasikan data, dan terakhir menggunakan editing data. Dalam penelitian ini ditemukan tatacara pembagian warisan suku Toraja yaitu dengan melebihkan harta kepada anak sulung karena menganggap anak sulung berjasa dalam keluarga serta tidak memberikan hak warisan kepada salah satu ahli waris karena telah mendapatkan hibah semasa hidup pewaris. Responden dalam penelitian ini beragama Islam. Melalui teknik analisis, peneliti mendeskripsikan secara kualitatif bahwa pembagian waris suku Toraja RT. 09 Sepinggan Raya Balikpapan Selatan tertolak, berdasarkan dalam <em>Qoidah Ushul Fiqih</em>, hal ini merupakan <em>al-Urf Fasid </em>bahwa adat yang berlaku di suatu tempat meskipun membagikan dari hasil musyawarah ahli waris itu sendiri. Namun tatacara pembagiannya tidak sesuai hukum syariat yang berlaku.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Keyword: Waris, Suku Toraja, Urf </em></strong></p> <p>&nbsp;</p> 2020-06-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2020 Ulumul Syar'i https://e-journal.stishid.ac.id/index.php/uls/article/view/70 Kritik M. Mustafa Al-A’zami Terhadap Ignaz Goldziher Dan A.J. Wensinck Tentang Autensitas Hadis Sebagai Sumber Islam 2020-06-25T11:20:37+00:00 Kusnadi kusnadi22@gmail.com <p>Hadis secara khusus berfungsi sebagai salah satu sumber dalam penetapan hukum. Hadis baru dibukukan secara formal pada akhir abad pertama dan awal abad kedua hijrah yaitu pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan <em>(library research)</em> yang bersifat deskriptif. Maksudnya memberikan gambaran pemikiran metode kritik Muhammad Mustafa al-A’zami terhadap Ignaz Goldziher dan Wensinck. Hasil dari penelitian ini, <em>pertama, </em>Menurut A’zami pernyataan Goldziher yang menuduh penelitian hadis yang dilakukan oleh ulama tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, karena lebih banyak menggunakan metode kritik sanad, dan kurang menggunakan metode kritik matan adalah tidak tepat, karena tidak ada bukti historis yang mendukung teori Goldziher dan bertentangan dengan sejarah. <em>Kedua,</em> Wensinck menginkari tentang Hadis akidah. Wensinck menuduh bahwa shalat baru selesai dalam bentuknya yang terakhir sesudah Nabi Saw wafat. Menurut A’zami Aneh sekali pernyataan Wensinck, sebab al-Qur’an berkali-kali menyuruh untuk mengerjakan shalat, begitu pula hadis Nabi SAW yang menerangkan tentang shalat. A’zami menyatakan syahadat dibaca setiap <em>tahiyat</em> dalam shalat. Kemudian A’zami menggunakan metode sejarah sebagai bantahan dan pembatalan terhadap teori dan pernyataan pemikir orientalis tersebut. Menurut hemat peneliti kalau ditelusuri lebih jauh, para orientalis dalam mengkaji teks Hadis cenderung berdasarkan pada perspektif Barat dan dipengaruhi oleh teori Bibel, sehingga mengakibatkan kesimpulan yang fatal.</p> 2020-06-25T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2020 Ulumul Syar'i